Nama : Reza Handayani Fitri
Npm :
16 4301 048
Kelas : A
MK :
Kapita Selekta Hukum Pidana
Dosen : Prof. Dr. H. Dwidja Priyatno, S. H., M. H.
Mas Putra Zenno J., S. H., M. H.
BENTUK-BENTUK
SANKSI PIDANA BAGI KORPORASI DI INDONESIA
A.
Pengertian
Korporasi
Soetan K. Malikul Adil, menguraikan pengertian
korporasi secara etimologis Korporasi (corporatie,
Belanda), corporation (Inggris), corporation (Jerman) berasal dari kata “corporatio” dalam bahasa latin. Menurut Subekti
dan Tjitrosudiblo bahwa korporasi adalah suatu persoalan yang merupakan badan
hukum.
Black’s Law Dictionary, mengatakan: “An entity (usually a business) having
authority under law to act as a single person distinct from the shareholders
who own it and having rights to issue stock and exist indefinitely, a group or
succession of persons established in accordance with legal rules into a legal
or juristic person that has legal personality distinct from the natural persons
who make it up, exists indefinitely apart from them, and has the legal powers
that is constitution gives it”. Dan definisi korporasi, dapat ditemukan
dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika Pasal 1 angka 13. Undang-Undang No. 35 Tahun
2009 tentang Narkotika, Pasal 1 angka 19. Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Jo.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001. Pasal 1 angka 1 tentang Pemberantasan Tipikor.
Undang-Undang No. 8 Tahun 2010, Pasal 1 angka 10, tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang pada intinya mengatakan: “Korporasi
adalah sekumpulan orang/kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum
maupun bukan badan hukum”.
B. Bentuk-Bentuk Sanksi Pidana Bagi Korporasi dalam
Lingkup Peradilan Pidana Indonesia
Bentuk-bentuk
atau jenis-jenis sanksi pidana yang dapat dijatuhkan kepada korporasi dapat
berupa pidana pokok dan pidana tambahan. Selama ini, berbagai undang-undang
pidana Indonesia baru menetapkan denda sebagai sanksi pidana pokok bagi
korporasi. Sementara itu, bentuk-bentuk sanksi pidana lain oleh undang-undang
ditetapkan sebagai sanksi pidana tambahan atau tindakan tata tertib. Berikut adalah
sanksi pidana pokok dan pidana tambahan yang akan dijatuhkan kepada korporasi:
1.
Pidana pokok; dan
2. Pidana denda.
Tidak
mungkin untuk menjatuhkan sanksi pidana kepada suatu korporasi berupa pidana
penjara, sehingga sebagai konsekuensinya adalah tidak mungkin menuntut suatu
korporasi sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan suatu undang-undang pidana
apabila dalam undang-undang tersebut ditentukan bahwa sanksi pidana yang dapat
dijatuhkan kepada pelaku pidana adalah kumulasi pidana penjara dan pidana denda
(keduanya sanksi pidana tersebut bersifat kumulatif, yaitu harus kedua sanksi
tersebut dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana yang bersangkutan).
Dengan kata
lain, korporasi hanya mungkin dituntut dan dijatuhi pidana apabila sanksi
pidana penjara dan pidana denda di dalam undang-undang itu ditentukan sebagai
sanksi pidana yang bersifat alternative (artinya dapat dipilih oleh hakim).
Apabila kedua sanksi pidana itu bersifat alternative, maka kepada pengurusnya
dapat dijatuhi sanksi pidana penjara saja, atau sanksi pidana denda, atau kedua
sanksi tersebut dijatuhkan secara kumulatif. Sementara kepada korporasinya
hanya dijatuhkan sanksi pidana denda karena korporasi tidak mungkin menjalani
sanksi pidana penjara.
Apabila
sanksi pidana ditentukan secara kumulatif antara pidana penjara dan pidana
denda, bukan secara alternatif, tetapi ada ketentuan lain dalam undang-undang
itu yang menentukan dengan tegas bahwa dalam hal tuntutan dilakukan terhadap
korporasi akan dijatuhkan sanksi pidana denda saja (mungkin dengan pidana denda
yang lebih berat), maka sanksi pidana penjara dan denda yang ditentukan secara
kumulatif itu tidak menghalangi dijatuhkan pidana denda saja kepada korporasi.
Contoh Pasal 45 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup yang menentukan: “Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam bab
ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum, perseroan, perserikatan,
yayasan atau organisasi lain, ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga”
Bagaimana
caranya agar pasal-pasal pidana dalam suatu undang-undang diberlakukan pula
bagi korporasi selaku pelaku tindak pidana yang diatur dalam undang-undang
tersebut dan tidak menimbulkan keraguan bagi para penegak hukum untuk menuntut
pula korporasi selain menuntut pengurusnya? Setidaknya memuat hal-hal
sebagai berikut:
1.
Ditentukan secara tegas dalam undang-undang itu bahwa
korporasi dapat dituntut selaku pelaku tindak pidana yang diatur dalam
undang-undang itu; dan
2. Sanksi pidana
penjara dan sanksi pidana denda yang ditentukan sebagai sanksi yang harus
dijatuhkan secara kumulatif hanya apabila pelaku tindak pidana yang dibebani
dengan pertanggung jawaban pidana adalah manusia; sedangkan apabila pelaku
tindak pidana adalah suatu korporasi, maka tindak pidana yang ditentukan di
dalam pasal-pasal pidana dalam undang-undang itu adalah berupa pidana denda.
Dengan
mengambil sikap seperti di atas itu, maka penyidik (polisi), penuntut umum
(jaksa) dan hakim tidak perlu meragukan apakah suatu korporasi dapat dituntut
sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan undang-undang yang bersangkutan dan
tidak ragu-ragu pula mengenai bentuk atau jenis sanksi pidananya.
1.
Pengumuman Putusan Hakim
Salah satu
bentuk sanksi pidana yang dapat dijatuhkan kepada korporasi adalah diumumkannya
putusan hakim melalui media cetak dan/atau elektronik. Pengumuman ini bertujuan
untuk mempermalukan pengurus dan/atau korporasi. Korporasi yang sebelumnya
telah memiliki reputasi yang sangat baik akan betul-betul dipermalukan bila
samapai terjadi hal yang demikian itu. Bentuk sanksi pidana ini, sekalipun
hanya merupakan sanksi pidana tambahan, akan sangat efektif guna mencapai
tujuan pencegahan (deterrence).
2.
Pembubaran yang Diikuti dengan Likuidasi Korporasi
Bagaimanakah
dengan pidana yang berupa pidana mati? Mungkinkah pidana mati dijatuhkan
terhadap suatu korporasi? Arti lain dari “mati” bagi suatu korporasi adalah
“bubarnya” korporasi tersebut. Korporasi diberi sanksi pidana berupa
“pembubaran korporasi” yang tidak lain sama hakikatnya dengan “pidana mati”
atau “hukuman mati” bagi korporasi tersebut. Apabila korporasi dibubarkan
sebagai akibat dijatuhkannya sanksi pidana, maka konsekuensi perdatanya adalah
“likuidasi” atas aset korporasi yang bubar itu.
Dalam Pasal
37 Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, suatu bank dapat diperintahkan untuk
dibubarkan oleh Pimpinan Bank Indonesia apabila Bank tersebut mengalami
kesulitan yang membahayakan usahanya atau menurut penilaian Bank Indonesia
keadaan suatu bank dapat membahayakan system perbankan. Perintah pembubaran
bank oleh undang-undang Perbankan dilihat sebagai tindakan tata tertib, bukan
sebagai sanksi administratif.
3.
Pencabutan Izin Usaha yang Diikuti dengan Likuidasi
Korporasi
Terhadap
korporasi hendaknya dapat pula dijatuhkan sanksi pidana berupa pencabutan izin
usaha. Dengan dicabutnya izin usaha, maka sudah barang tentu untuk selanjutnya
korporasi tidak dapat lagi melakukan kegiatan usaha untuk selamanya. Guna
memberikan perlindungan kepada kreditor, hendaknya putusan hakim berupa
pencabutan izin usaha tersebut dibarengi pula dengan perintah kepada pengurus
korporasi untuk melakukan likuidasi terhadap aset perusahaan untuk pelunasan
utang-utang koporasi kepada para kreditornya. Antara putusan hakim berupa
pencabutan izin usaha disertai perintah likuidasi dan putusan hakim berupa
pembubaran korporsai sebagai hasil akhir boleh dikatakan tidak ada bedanya.
Keduanya mengakibatkan perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan usaha dan aset
korporasi dilikuidasi.
4.
Pembekuan Kegiatan Usaha
Pembekuaan
kegiatan terhenti, dapat ditentukan oleh hakim untuk jangka waktu tertentu saja
atau untuk selamanya. Sementara itu, pembekuan semua kegiatan, hanya dapat
diputuskan oleh hakim untuk jangka waktu tertentu. Apabila untuk selamanya,
maka putusannya bukan berupa pembekuan semua kegiatan usaha, tetapi berupa
pembubaran korporasi atau berupa pencabutan izin usaha diikuti dengan
likuidasi.
Pidana
tambahan berupa:
1. Melakukan pembersihan lingkungan atau clean up dengan biaya sendiri atau
menyerahkan pembersihanya kepada Negara atas beban biaya korporasi (dalam hal
tindakan pidana lingkungan hidup) yang ditentukan oleh hakim minimum biaya yang
harus dikeluarkan oleh korporasi berdasarkan penaksiran harga oleh suatu
konsultan independen.
2. Membangun
atau membiayai pembangunan proyek yang terkait dengan tindak pidana yang
dilakukan, misalnya membangun rumah sakit atau pusat rehabilitas korban narkoba
yang ditentukan oleh Hakim minimum biaya yang harus dikeluarkan oleh korporasi
berdasarkan penaksiran harga oleh suatu konsultan independen.
Penyitaan korporasi, selama berlangsungnya proses
pemeriksaan, hendaknya dimungkinkan pula dilakukan penyitaan terhadap korporasi
oleh pengadilan dengan diikuti penyerahan pengelolaannya kepada direksi
sementara yang ditetapkan oleh pengadilan. Pengadilan dapat mengeluarkan
penetapan untuk menunjuk salah satu BUMN yang sejenis dalam bidang usaha dengan
korporasi yang bersangkutan untuk mengelola sementara korporasi tersebut sampai
penyitaan itu dicabut.
C. Jenis-Jenis
Sanksi (Pidana) yang Dapat Dijatuhkan Terhadap Korporasi dalam Peraturan
Perundang-Undangan Indonesia
1.
Undang-Undang Nomor 7 Drt
Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi
a. Sanksi pidana yang dapat dikenakan terhadap korporasi
adalah pidana tambahan berupa penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan si
terhukum, apabila tindakan ekonomi yang dilakukan untuk waktu selama-lamanya
satu tahun (Pasal 7 ayat (1) sub b);
b. Perampasan barang-barang tetap tak berwujud atau
berwujud termasuk perusahaan si terhukum yang berasal dari tindak pidana
ekonomi (Pasal 7 ayat (1) sub c jo. sub d);
c. Pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau
penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat
diberikan kepada si terhukum oleh pemerintah berhubungan dengan perusahaannya,
untuk selama-lamanya 1 (satu) tahun (Pasal 7 ayat (1));
d.
Pengumuman putusan hakim (Pasal 7 ayat (1) sub f);
e. Tindakan tata tertib seperti menempatkan perusahaan si
terhukum di bawah pengampuan, mewajibkan pembayaran uang jaminan, mewajibkan
membayar sejumlah unag sebagai pencabutan keuntungan, mewajibkan mengerjakan
apa yang dilalaikan, tanpa hak, meniadakan apa yang telah dilakukan, tanpa hak,
melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat satu sama lain, se mua atas biaya
si terhukum, sekadar hakim tidak menentkan lain (Pasal 8 sub a, b, c); dan
f. Pidana denda, sebab menurut Pasal 9 dikatakan bahwa
penjatuhan tindakan tata tertib dalam Pasal 8 harus bersama dengan sanksi
pidana, dan sanksi pidana yang tepat dapat dijatuhakn terhadap korporasi adalah
pidana denda.
Sebagai
catatan system penjatuhan pidana yang dianut dalam UUTPE adalah system dua
jalur (double track system) artinya sanksi berupa pidana dan tindakan dijatukan
secara bersama-sama, yaitu pidana denda dan tindakan tata tertib.
2.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1984 Tentang Pos
a.
Pidana denda;
b. Tindakan tata tertib (Pasal 19 ayat (3) jo. Pasal 19
ayat (1) dan (2). Dalam UU Pos juga dianut stelsel pidana “system dua jalur”.
3. Undang-Undang
No. 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan
a.
Pidana denda (Pasal 20 ayat (1), ayat (3), Pasal 22
ayat (1); dan
b. Pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha
ketenagalistrikan (Pasal 20 ayat (3) dan Pasal 22 ayat (2)).
4. Undang-Undang
No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
a. Menurut Pasal 59 ayat (3), korporasi yang melakukan
tindak pidana dalam Pasal 59 hanya dikenakan denda Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar Rupiah);
b. Menurut Pasal 70, Korporasi yang melakukan tindak
pidana Pasal 60 sampai dengan Pasal 64 dikenakan:
1)
Pidana denda sebesar dua kali yang diancamkan; dan
2)
Dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan izin
usaha.
5.
Undang-Undang No. 22 Tahun
1997 Tentang Narkotika
Pidana denda
diperberat (ayat (4) Pasal 78 s.d Pasal 82).
6.
Undang-Undang No. 23 Tahun
1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pidana pokok
berupa pidana denda diperberat dnegan sepertiga (Pasal 45); dan/atau tindakan
tata tertib (Pasal 47) berupa:
a.
Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak
pidana; dan/atau
b.
Penutupan perushaaan (seluruhnya/sebagian); dan/atau
c.
Perbaikan akibat tindak pidana;
d.
Mewajibkan mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak;
dan/atau
e.
Meniadakan apa yang dilakukan tanpa hak; dan/atau
f.
Menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama
3 (tiga) tahun.
7. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Untuk
korporasi dapat dijatuhkan pidanan denda (Pasal 48). Disamping itu dapat
dijatuhkan pidana tambahan berupa:
a.
Pencabutan izin usaha; atau
b. Larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti
melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini untuk menduduki jabatan
direksi atau komisaris sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan selama-lamanya 5
(lima) tahun;
c. Penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang
menyebabkan timbulnya kerugian kepada pihak lain (Pasal 49).
Khusus untuk
“tindakan administratif” dalam Pasal 47 ayat (2) terdapat kejanggalan kebijakan
legislasi dalam merumuskan tindakan administratif berupa:
a.
Penetapan pembatalan perjanjian;
b.
Perintah menghentikan integrasi vertical;
c.
Perintah menghentikan kegiatan yang menimbulkan
praktik monopoli, persaingan usaha tidka sehat atau merugikan masyarakat;
d.
Perintah menghentikan penyalahgunaan posisi dominan;
e.
Penetapan pembatalan atas penggabungan/peleburan badan
usaha dan pengambilalihan saham;
f.
Penetapan ganti rugi; dan/atau
g. Pengenaan denda minimal Rp. 1.000.000.000,- (satu
miliar rupiah) dan maksimal Rp. 25.000.000.000,- (dua puluh lima miliar Rupiah).
8. Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen
a.
Pidana yang dapat dijatuhkan terhadap pelaku usaha
adalah pidana denda (Pasal 62)
b.
Pidana tambahan berupa:
a.
Perampasan barang tertentu;
b.
Pengumuman keputusan hakim;
c.
Pembayaran ganti rugi;
d.
Perintah penghentian kegiatan tertentu yang
menyebabkan timbulnya kerugian konsumen;
e.
Kewajiban penarikan barang dari peredaran;
f.
Pencabutan izin usaha (Pasal 63).
9. Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang
Pemberantasan TIndak Pidana Korupsi
Pidana pokok yang dapat dijatukan kepada korporasi hanya pidana denda, yang
maksimumnya ditambah/diperberat 1/3 (satu pertiga) (Pasal 20 ayat (7)).
10. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
Sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap badan usaha/badan hukum adalah pidana
denda, dengan ketentuan paking tinggi pidana denda ditambah sepertiganya (Pasal
56 ayat (2)). Dalam UU tersebut pidana denda yang diancamkan paling tinggi Rp.
60.000.000.000,- (enam puluh milyar rupiah) (Pasal 52, 54 dan 54).
11. Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003
Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
Pidana yang dapat dijatuhkan dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang adalah:
Pidana
tambahan berupa pencabutan izin usaha dan/atau pembubaran korporasi yang
diikuti dengan likuidasi (Pasal 5 ayat (2)).
Dari pengaturan sanksi terhadap korporasi yang melakukan kejahatan seperti
tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa stelsel pidana yang diterapkan terhadap
korporasi adalah sebagai
berikut:
1.
Pidana denda
2.
Sanksi perdata yaitu ganti kerugian
3. Pidana tambahan berupa penutupan seluruhnya atau
sebagian perusahaan, tindakan administratif berupa pencabutan seluruhnya atau
sebagian fasilitas tertentu yang telah atau dapat diperoleh oleh perusahaan dan
tindakan tata tertib[9]
berupa penempatan perusahaan di bawah pengampuan yang berwajib
4.
Pidana tambahan berupa pengumuman putusan hakim.
Prof. Muladi pernah mengadakan penelitian empiris terhadap 60 responden
mengenai urutan sanksi pidana yang paling tepat dijatuhkan terhadap korporasi. Hasilnya:
a. Pidana tambahan berupa penutupan seluruhnya atau
sebagian perusahaan, tindakan administratif berupa pencabutan seluruhnya atau
sebagian fasilitas tertentu yang telah atau dapat diperoleh oleh perusahaan dan
tindakan tata tertib berupa penempatan perusahaan di bawah pengampuan yang
berwajib (dipilih oleh 45 responden atau 72,58%);
b.
Pidana denda (dipilih oleh 33 responden atau 51,61%);
c.
Sanksi perdata yaitu ganti kerugian (dipilih oleh 32 responden atau 51,61%);
d.
Pidana tambahan berupa pengumuman putusan hakim,
sebanyak 20 orang atau 32,26%.
Dengan demikian,
pidana penjara maupun kurungan tidak lazim untuk korporasi, meskipun menurut
teori organ, pengurus korporasi dalam hal ini Direksi merupakan pengejawantahan
dari organ tersebut.
D. Model Alternative Sanctions Corporation
The draft
Criminal Code in 2015, it did not distinguish between types of criminal
sanction arrangements between the types of sanctions are targeted against persons
and corporations. That is the model type of criminal sanctions targeted against
persons and corporations united in one package setting the types of crime.
According to the authors, this condition can be called as one of the models
setting the type of criminal sanctions for the corporation. Such a model
adopted in most countries that codify criminal law (including the Netherlands).
Other models, as an alternative to the model are the need for differentiation
types of criminal sanctions for people and corporations.
Based on the
description above, the known models of type setting criminal sanctions, imposed
against the corporation. The first model, the model type settings criminal
sanctions aimed at both the person and the corporation no difference, in the
first model is the basic philosophy of the imposition of the sentence is at the
point of emphasis to the human/person; for example, the Criminal Code, W.v.S
Netherlands, the draft Criminal Code 2015 (a constitute lush referendums ideal
policies), legislation such as the Criminal Code specifically outside the law
for economic crime, the Law on Narcotics and so on). The second model, the
model type settings criminal sanctions distinguish strictly criminal sanctions
for people and for the corporation, the basic philosophy of the criminal
punishment even though people and corporations as subjects of law, but they are
different both in nature and theoretically (Muladi and Priyatno, 2015).
For it is
necessary to find criteria on the basis or reason for these distinctions, in
particular in order to determine the criteria or categories of principal and
additional criminal punishment aimed at the corporate or legal entity. Search
criteria as a basis for determining the model type of criminal sanctions aimed
at corporations, if the criteria for corporate criminal type model is different
from the criteria for the types of crime (both models), as alternative models.
Criteria
could be seen from the definition/understanding of the corporation. If the
corporation is restricted only limited understanding as a legal entity only,
then there are restrictions or exceptions, to the corporation committing
criminal offenses in cases which by its nature cannot be carried by a
corporation, for example, bigamy, rape, perjury. In Case that the only crime
may be imposed is not possible subject to the corporation, such as imprisonment
or the death penalty, in a case of murder and treason, which the only form of
criminal threat for life or capital punishment. When viewed, and the above description,
the corporation as the subject of a criminal offense is different with humans.
It is caused by nature; there are some limitations of a crime that can be
committed by corporation, when compared with the criminal offenses committed by
humans.
Criteria
views of the benefits of punishment against the corporation. Some critics of
corporate responsibility already doubts about whether the corporation itself
can be prevented with a criminal. But a premature evaluation, giving another
conclusion that corporations are likely to receive very little fines compared
to the size / amount of corporation, income, or profit expected to be obtained
from the offense committed. Therefore, it is difficult to assert that the
corporation does not have to be convicted and that they do not need to be
prevented.
A problem
worthy of note that the crime for corporations tend imposed on the person/party
which is not guilty, not only on shareholders, but also to employees,
creditors, communities, and also for consumers which may indemnify the
corporation if the fines seen as a business expense. This problem suggests a
desire to minimize the punishment for the corporation. Some proposals, for
example, the use of reasonable fines (fine inequity) withheld/withdrawn in
common stock will prevent corporate bankruptcies and negate the loss for not
shareholders, while pressing corporations to link the change control
management. The same thing, criminal charge of corporate oversight (corporate
probation) has been recommended as a means for public intervention. The other
thing that recommended is the use of sanctions publicity and sanctions in the
form of community service/social work.
This
proposal suggests that the issue of corporate accountability can be and should
be
broken up or separated from the
optimal form of corporate punishment. By contrast, corporate accountability
facilitates the criminal prosecution against the individual defendants (Nawawi,
2005). The criteria on the size of the criminal sanction when to be directed to
the corporation. If these criteria are not fulfilled, then the corporation
should not be criminalized.
According
Clinard and Yeager (2002), which have to meet the following criteria: the
degree of loss to the public; the level of complicity by high corporate; the
duration of the violation; the frequency of the violation by the corporation;
evidence of intent to violate; evidence of extortion, as in bribery cases; the
degree of notoriety engendered by the media; precedent in law; the history of
serious, violation by the corporation; deterrence potential; the degree of
cooperation evinced, by the corporation.
Based on
some of the above criteria, then theoretically types of criminal sanctions to
corporations can be dealt with separately and apart from the criminal sanctions
package that had been there (the first model). This is an alternative to a
model-type setting for corporate criminal sanctions, which the writer suggested
as a second model. For example that the first model was adopted in the
legislation, like the contained in the law No. 15 of 2002 no. Law No. 25 of
2003 on Money Laundering Crime. According to Article 5 paragraph (2), said: in
addition to a fine as referred to in paragraph 1 against the corporation may
also be imposed additional penalty of revocation of business licenses and/or
corporate dissolution followed by liquidation. Act mentioned above have been
withdrawn and replaced by Act No. 8 of 2010, but Article 7, paragraph 2, still
contains the same provisions, and entered in the category of additional
criminal.
If we
analyze these provisions, it should be criminal revocation of business licenses
and exposition of the corporation followed by liquidation or dissolution and
the banning of the corporation, were not included in the category of the type
of additional penalty, if we embrace the types of criminal sanctions for
corporate models of both, and should fit into the type principal criminal,
assuming different criteria of corporate crime by the principal for the
criminal. According to the authors of criminal form of revocation of business
and corporate dissolution followed by liquidation or dissolution of the fund or
banning corporate, identical to the type of capital punishment, when addressed
to the "people" according to alternative models for sanctions in
second models.
Model
stelsel criminal sanctions may be imposed against the corporation as the
subject of a criminal act, as an alternative model options that had not been
getting good setting with after listening to the description above, the model
that distinguishes the type of criminal sanctions for people and corporations
(both models). Selection of the model chosen setting is a policy issue, one
important stage in the policy formulation stage which is the stage of law
enforcement agencies in abstract by lawmakers. Prevention and control of crime
with penal is a “penal policy” or “penal law enforcement policy” that
functionalization/operationalization of several stages: (1)
formulation (legislative policy/legislation;
(2) Applications (policy judicial/
judicial); (3) execution (executive
policy/
administrative).
Stage of
formulations can be called a policy/legislation. A policy is a plan or
program of legislators about what to
do in the face of certain problems and how to do or accomplish something that
has been planned or programmed it (Nawawi, 1994). Particularly relevant to the
prospect of setting the type of corporate crime against the corporation can be
said to be the ideal policy. The policy could affect law enforcement problem
concerns the subject of corporate crime (Dwidja, 2004). To support the latter
model (second model) which is an option on the model type of criminal sanctions
for the corporation, can presumably a comparison of the results of the
“International Meeting of Experts on the Use of Criminal Sanction in the
Protections of Environment” held in Portland, Oregon, USA. On March 19 to 23,
1994, stating that it may be subject to the corporation, namely: Monetary
sanction of them to replace the economic benefits
(recoups any economic benefit)
obtained as a result of the crime; recover, all or part of the cost of the
investigation/inquiry and make improvements (reparation) any losses incurred;
fine.
Additional
penalty in the form of: a ban on acts/activities that can lead to continuation
or recurrence of the crime; command to terminate or not to continue activities
(temporarily or earlier) revocation prevalent activity, the dissolution of the
business; appropriation of wealth (property assets) and the results of the
crime by giving protection of the rights of the third party is bona fide;
remove or disqualify a convicted person/corporation from government contracts,
fiscal benefits or subsidies; ruled solving cancel disqualify managers and
officers from office; ordered the convicted person/corporation acts to fix or
to avoid damages to the environment; requires convicted comply with the
requirements stipulated conditions the court to prevent the convict repeat his
actions; govern the publication of facts relating to a court decision; ordered
the t convict to tell people who are harmed by his actions; ordered the
convicted person (if an organization) to inform the public of all countries
where it operates, the organization, the branches, to the directors, officers,
managers or employees, the overall responsibility or sanction imposed on him;
ordered the, the convicted person to perform services or social work (community
service).
In the
countries Anglo Saxon as the UK, the problem of Criminalization Corporation has
developed in such a way as in the UK. Celia Wells (1996) in his book entitled
Corporation and Criminal Responsibility, stating that the penalty for a
corporation is divided into two: Financial Sanction is the type of penalty,
which is deemed appropriate and can be dropped to the corporation. But in
practice also raises the problem that if it cannot be paid by a corporation,
then it will be replaced with criminal deprivation of liberty, restrictions in
the payment of fines is limited or taken from the assets the corporation itself.
But it can meet the financial sanctions in the form of sanctions, and then it
will obviously affect the appearance and reputation of the corporation which is
indispensable in business life. Non-Financial Sanction may include: probation;
adverse publicity; community service; direct 'compensation orders; punitive
injunctions.
Although
does not expressly support the second model, the opinion Muladi (2002) actually
leads to setting the type of criminal sanctions directed against both corporate
models. He stated that all criminal sanctions and measures can basically be
imposed on corporations, except the death penalty and imprisonment. In this
regard it should be noted that in the United States known as the so-called
“corporate death penalty” is liable to a closure of the Entire Corporation and
“corporate imprisonment”, which implies the existence of other restrictions
against corporate measures in the attempt. The types of criminal sanctions can
be imposed on the corporation as has been described above is an option in the
preparation of legislation concerning the corporation as the subject of a
criminal act, as well as support a second model type settings criminal
sanctions directed against the corporation in Indonesia. The types of criminal
sanctions can be imposed on the corporation as has been described above is an
option in the preparation of legislation concerning the corporation as the
subject of a criminal act, as well as support a second model type settings
criminal sanctions directed against the corporation in Indonesia.
Referensi:
Pengertian Korporasi:
Dwidja Priyatno, Materi Kapita Selekta Hukum Pidana Tentang Korporasi, 2018.
Bentuk-Bentuk Sanksi Pidana Bagi Korporasi dalam
Lingkup Peradilan Pidana Indonesia:
Jenis-Jenis
Sanksi (Pidana) yang Dapat Dijatuhkan Terhadap Korporasi dalam Peraturan Perundang-Undangan Indonesia:
http://mariske-onlyhope.blogspot.com/2011/10/pertanggungjawaban-pidana-korporasi.html
Model Alternative Sanctions Corporation:
https://www.abacademies.org/articles/The-alternative-model-of-corporate-criminal-sanction-management-in-Indonesia-1544-0044-20-1-131.pdf
http://mariske-onlyhope.blogspot.com/2011/10/pertanggungjawaban-pidana-korporasi.html
Model Alternative Sanctions Corporation:
https://www.abacademies.org/articles/The-alternative-model-of-corporate-criminal-sanction-management-in-Indonesia-1544-0044-20-1-131.pdf
Komentar
Posting Komentar