Antropologi Hukum


CIRI KHAS BUDAYA INDONESIA



Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Antropologi Hukum



Dosen:
Dr. Hj. Emma Dysmala., S. H., M. Si.


Disusun oleh:
                                                                 
Reza Handayani Fitri
:
16.4301.048
  Kelas                                             :      A




Logo STHB 1
 





                                                                                  





SEKOLAH TINGGI HUKUM BANDUNG
2018



KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam kami curahkan kepada Nabi besar kita yakni Nabi Muhammad SAW. Atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Penulis akan membahas tentang Ciri Khas Budaya di Indonesi. Karena budaya Indonesia untuk saat ini ada yang masih ada dan ada yang sudah hilang.
Terimakasih kepada Ibu Dr. Hj. Emma Dysmala S., S. H., M. Si., selaku dosen yang telah membimbing dalam menyelesaikan makalah ini. Terimakasih pula penulis ucapkan kepada orang tua yang selalu memberikan fasilitas berupa finasial maupun do’a.
Penulis berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi pembacanya. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah SWT.




DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                               i
Daftra Isi                                                                                                         ii
Bab I     Pendahuluan                                                                                     1
A.      Latar Belakang                                                                          1
B.       Identifikasi Masalah                                                                  2
C.       Tujuan Penulisan                                                                        2
D.      Metode Pengumpulan Data                                                       2
Bab II    Pembahasan                                                                                      3
A. Pengertian Budaya                                                                      3
B. Sifat-sifat dari kebudayaan                                                          4
C.     Keberagaman Budaya Indonesia                                                4
D.    Bukti sejarah                                                                               6
E.     Wujud dan Komponen Kebudayaan                                          6
F.      Budaya Sebagai Identitas Nasional                                            9
G.    Jenis Kebudayaan yang Ada di Indonesia                                 10
H.    Wujud Kebudayaan Indonesia                                                   11
I.       Budaya Indonesia yang Hilang                                                  16
Bab III Penutup                                                                                              19
A.    Simpulan                                                                                       19
B.     Saran                                                                                             19
Daftar Pustaka                                                                                                            20
 








BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang amat kaya akan kebudayaan, bagaimana tidak dari 34 Provinsi yang tersebar diseluruh Indonesia semuanya memiliki kebudayaan yang berbeda-beda pula, dari berbagai macam kebudayaan ini tidak lah membuat masyarakat Indonesia menjadi terpecah belah, namun menjadi sebuah persatuan dari berbagai macam perbedaan.
Pengertian budaya itu sendiri adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi secara tata bahasa arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjukan kepada cara pikir manusia. Dari pengertian tersebut terlihat jelas bahwa kebudayaan merupakan cara pandang atau cara berpikir masyarakat indonesia yang telah terbentuk sejak dahulu kala, dan telah digunakan oleh rakyat indonesia dalam berbangsa dan bernegara.[1]
Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi  Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok suku bangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan.[2]

B.  Identifikasi Masalah
1.    Apa saja wujud dari kebudayaan yang ada di Indonesia?
2.    Budaya Indonesia apa saja yang hilang?

C.  Tujuan Penulisan
1.    Untuk megetahui dan memahami apa saja wujud dari kebudayaan yang ada di Indonesia.
2.    Untuk mengetahui dan memahami budaya Indonesia apa saja yang hilang.

D.  Metode Pengumpulan Data
Kami memperoleh data sebagai bahan dalam penulisan karya ilmiah ini dari kajian pustaka dan melakukan browsing internet.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah/mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.[3]
Definisi kebudayaan menurut para ahli, sebagai berikut:
1.    Melville J. Herkovits  
Memandang bahwa kebudayaan suatu yang superorganic karena kebudayaan yang turun-temurun dari generasi ke generasi yang tetap hidup terus walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran.
2.    Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi
Merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
3.    E. B Taylor  
Mengidentifikasikan bahwa kebudayaan sebagai komplikasi (jalinan) dalam keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keagamaan, hukum, adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat.
4.    Andes Eppink
Kebudayaan merupakan keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur sosial, dan religius.
5.    Koentjaraningrat
Kebudayaan merupakan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka memenuhi kehidupan manusia dengan cara belajar.[4]

B.  Sifat-sifat dari kebudayaan
Sifat-sifat dari kebudayaan, adalah sebagai berikut :
1.    Adaftif
Kebudayaan bersifat adaptif, artinya kebudayaan selalu mampu menyesuaikan diri, sifat adaptif ini akan melengkapi manusia pendukungnya dengan menyesuaikan diri pada hal-hal seperti kebutuhan fisiolologis badan mereka sendiri, lingkungan fisik-geografis dan lingkungan sosial.
2.    Integratif
Kebudayaan bersifat Integratif artinya kebudayaan memadukan semua unsur dan sifat-sifatnya menjadi satu, bukan sekumpulan kebiasaan yang terkumpul secara acak-acakan saja. Karena itulah kebiasaan yang dimiliki dalam suatu kebudayaan tidak dapat dengan mudah dimasukan kedalam kebudayaan lain.
3.    Dinamis
Kebudayaan bersifat dinamis artinya kebudayaan itu selalu berubah dan terus bergerak mengikuti dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat. Dinamika kehidupan sosial budaya terjadi sebagai akibat dari interaksi manusia dengan lingkungan sekitar, penafsiran-penafsiran atau interpretasi yang berubah tentang norma-norma, dan nilai-nilai sosial budaya yang berlaku.

C.  Keberagaman Budaya Indonesia
Keragaman budaya adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat di pungkiri keberadaanya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada di daerah tersebut. 
Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten pada abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang gujarat dan pesisir jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal ditengah tengah singgungan antar peradaban itu.
Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal terbesar di pulau-pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan=pertemuan dengan budayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia.
Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga mencerminkan kebudayaan agama tertentu. Biasa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu Negara dengan tingkat keanekaragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragamanbudaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradisional hingga ke modern, dan kewilayahan. Dengan keanekaragaman kebudayaan Indonesia dapat dikatakan mempunyai keungulan di bandingkan dengan Negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.
Dan tak kalah pentingnya, secara social budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang di rangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan di jalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda,namun juga meiliputi antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal portugis di banten pada abad pertengahan missal nya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang Gujarat dan pesisir jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada di Indonesia. Singungan-singungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya local di tengah-tengah singgunagn antar peradaban itu. 

D.  Bukti sejarah 
Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara parallel. Misalnya kebudayaan kraton atau kerjaan yang berdiri sejalan secara parallel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok masyarakat terentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan parallel dengan kebudayaan rural atau pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang jauh hidup terpencil.
Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai “Bhineka Tunggal Ika”, dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamanya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan. Didasari pula bahwa dengan jumlah kemlompok sukubangsa kurang lebih 700’an suku bangsa di seluruh nusantara, dengan berbagai tipe kelompok masyarakat yang beragam, serta keragaman agamanya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang sesunguh nya rapuh. Rapuh dalam artian dengan keragaman perbedaan yang di milikinya maka potensi konflik yang di punyai juga akan semakin tajam. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat akan terjadi pendorong untuk mempekuat isu konflik yang muncul di tengah-tengah masyarakat dan keragaman kebudayaan.[5]
E.  Wujud dan Komponen Kebudayaan
1.    Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
a.    Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan, dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
b.    Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati, dan didokumentasikan.
c.         Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur, dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
2.    Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu:
a.    Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
b.    Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
c.    Lembaga sosial
Lembaga sosial, dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan, dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem sosial yang terbentuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar, dan konsep yang berlaku pada tatanan sosial masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota, dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier.
d.   Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan, dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup, dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
e.    Estetika
Berhubungan dengan seni, dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama, dan tari –tarian, yang berlaku, dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan, dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah, dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning, dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
f.     Bahasa
Bahasa merupakan alat pengantar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian, dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik, dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan, dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari, dan dipahami agar komunikasi lebih baik, dan efektif dengan memperoleh nilai empati, dan simpati dari orang lain.
F.   Budaya Sebagai Identitas Nasional
Budaya Indonesia sebagai akar Indentitas Nasional pada hakekatnya berarti manifestasi atau pengamalan nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia sebagai Identitas Nasional. Identitas disini berarti suatu ciri-ciri, tanda, atau jati diri yang melekat pada suatu negara yang membedakannya dari negara lain.
Walaupun terdiri dari berbagai suku dan budaya tetapi masyarakat Indonesia tetap bersatu teguh. Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya,
Dari berbagai macam kebudayaan inilah yang menjadi dasar atau akar dari Identitas Nasional Bangsa Indonesia, dimana menjadi pembeda antara Bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya.[6]
G. Jenis Kebudayaan yang Ada di Indonesia
Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Budaya merupakan suatu kebiasaan yang mengandung nilai-nilai penting dan fundamental yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan tersebut harus dijaga agar tidak luntur atauhilang sehingga dapat dipelajari dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Budaya secara umum dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1.    Budaya nasional
Budaya Nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Selain itu, budaya nasional juga diartikan sebagai gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”. Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”.
2.    Budaya Daerah
Budaya Daerah adalah suatu kebiasaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk-penduduk yang lain. Budaya daerah sendiri mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan-kerajaan terdahulu.

H. Wujud Kebudayaan Indonesia
1.    Wujud Kebudayaan Nasional
Adapun wujud dari kebudayaan nasional Negara Indonesia, yaitu:
a.    Negara kesatuan
b.    Ekonomi nasional
c.    Hukum nasional
2.    Wujud Kebudayaan Daerah
Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Berikut adalah wujud-wujud dari kebudayaan daerah, yaitu:
a.    Rumah Adat
1)        Provinsi DI Aceh
Rumah adat Aceh berbentuk panggung. Mempunyai 3 serambi yaitu Seuramue Keu ( Serambi depan ), Rumah Inong ( serambi tengah ) dan Seurarnoe Likot ( serambi belakang ). Selain itu, ada rumah berupa lumnbung padi yang dinamakan Krong Pade atau Berandang.
2)        Provinsi Sumatera Utara
Rumah adat Sumatera Utara adalah Jahu Balon, sebuah rumah pertemuan keluarga besar. Berbentuk panggung dan ruang atas untuk tempat tinggal. Pada ruang ini tak ada kamar-kamar dan biasanya 8 keluarga tinggal bersama-sama. Tempat tidur lebih tinggi daripada dapur.
3)        Provinsi Sumatera Barat
Rumah adat untuk tempat tinggal di Sumatera Barat adalah Rumah Gadang. Rumah tersebut dapat dikenali dari tonjalan atapnya yang mencuat ke atas yang bermakna menjurus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tonjolan itu dinamakan gojong yang banyaknya 4-7 buah.
4)        Provinsi Riau
Rumah adat di daerah Riau bernama Selaso Jatuh Kembar. Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat .
5)        Provinsi Sumatera Selatan: Rumah adatnya adalah Rumah Limas.
6)        Provinsi Jawa: Rumah adatnya adalah Joglo.
7)        Papua: Rumah adatnya adalah  Honai.
8)        Provinsi Sulawesi Selatan: Rumah adatnya adalah Tongkonan (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla Lompoa (Makassar Gowa).
9)        Sulawesi Tenggara: Rumah adatnya adalah Istana buton.
10)    Sulawesi Utara: Rumah adatnya adalah Rumah Panggung.
11)    Kalimantan Tengah: Rumah adatnya adalah Rumah Betang.
12)    Provinsi Kalimantan Barat
Model rumah adat Kalimantan Barat berbentuk panggung. Bagian kolongnya tidak dipergunakan, karena tanahnya berawa-rawa. Pada kiri kanan rumah terdapat kamar-kamar dan ditengahnya merupakan ruang upacara dan pertenunan.
13)    Provinsi Kalimantan Selatan
Rumah adatnya adalah Rumah Bubungan Tinggi. Bagian depan rumah berfungsi sebagai teras yang dinamakan Pelataran. Rumah ini merupakan rumah panggung dan dibawahnya untuk menyimpan padi dan sebagainya.
14)    Provinsi Kalimantan Timur
Rumah adatnya adalah Rumah Lamin. Rumah itu berbentuk panggung setinggi 3 meter dan dihuni oleh 25 – 30 kepala keluarga. Halamnan rumah dihiasi oleh patung-patung Blontang, yang menggambarkan dewa-dewa sebagai penjaga rumah atau kampung.
15)    Nusa Tenggara Timur: Rumah adatnya adalah Lopo.
16)    Maluku: Rumah adatnya adalah Balieu (dari bahasa Portugis).
b.    Tarian
Berikut adalah tarian-tarian yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Jawa: Bedaya, Kuda Lumping, Reog.
2)        Bali: Kecak, Barong/ Barongan, Pendet.
3)        Maluku: Cakalele, Orlapei, Katreji
4)        Aceh: Saman, Seudati.
5)        Minangkabau: Tari Piring, Tari Payung, Tari Indang, Tari Randai, Tari Lilin.
6)        Betawi: Yapong.
7)        Sunda: Jaipong, Reog, Tari Topeng.
8)        Timor NTT: Likurai, Bidu, Tebe, Bonet, Pado'a, Rokatenda, Caci.
9)        Batak Toba & Suku Simalungun: Tortor.
12)    Riau: (Persembahan, Zapin, Rentak bulian, Serampang dua Belas).
c.    Lagu
Berikut ini adalah beberapa lagu-lagu di daerah Indoneia, yaitu :
2)        Maluku: Rasa Sayang-sayange, Ayo Mama.
3)        Melayu: Soleram, Tanjung Katung.
5)        Aceh: Bungong Jeumpa.
6)        Kalimantan Selatan: Ampar-Ampar Pisang.
7)        Nusa Tenggara Timur: Anak Kambing Saya.
8)        Nusa Tenggara Timur: Oras Loro Malirin, Sonbilo, Tebe Onana, Ofalangga, Do Hawu, Bolelebo, Lewo Ro Piring Sina, Bengu Re Le Kaju, Aku Retang, Gaila Ruma Radha.
9)        Angin Mamiri (Sulawesi Selatan).
10)    Anju Ahu (Sumatera Utara).
11)    Apuse (Papua).
12)    Ayam Den Lapeh (Sumatera Barat) .
13)    Barek Solok (Sumatera Barat).
14)    Batanghari (Jambi).
15)    Bubuy Bulan (Jawa Barat).
16)    Buka Pintu (Maluku).
17)    Bungo Bangso (Sumatera Utara).
18)    Bungong Jeumpa (Aceh).
19)    Burung Tantina (Maluku).
d.   Musik
Berikut adalah beberapa music yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Jakarta: Keroncong Tugu.
2)        Melayu: Hadrah, Makyong, Ronggeng.
3)        Makassar: Gandrang Bulo, Sinrilik.
5)        Makassar: Gandrang Bulo, Sinrilik.
7)        Jawa Barat: karawitan.
8)        Serang Banten (pencak silat).
e.    Alat musik
Berikut adalah beberapa alat music yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Jawa: Gamelan, Kendang Jawa.
3)        Gendang Bali.
4)        Gendang Simalungun.
5)        Gendang Melayu.
6)        Gandang Tabuik.
7)        Sasando.
8)        Talempong.
9)        Calempong Kampar.
10)    Tifa.
11)    Saluang.
12)    Rebana.
13)    Bende.
14)    Kenong.
15)    Keroncong.
16)    Serunai.
17)    Jidor.
18)    Suling Lembang.
19)    Suling Sunda.
20)    Dermenan.
f.     Patung
Berikut ini adalah beberapa patung yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Jawa: Patung Buto, patung Budha.
2)        Bali: Garuda.
3)        Irian Jaya: Asmat.
g.    Pakaian
Berikut ini adalah beberapa pakaian daerah yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Jawa: Batik.
2)        Sumatra Utara: Ulos, Suri-suri, Gotong.
5)        Sumatra Selatan : Songket.
6)        Lampung: Tapis.
7)        Kalimantan Selatan: Sasirangan .
8)        Nusa Tenggara Timur: Tenun Ikat.
9)        Bugis / Makassar: Baju Bodo dan Jas Tutup, Baju La'bu.
10)    Papua Timur: Manawou.
11)    Papua Barat: Ewer.
h.    Suara
Berikut ini adalah beberapa suara daerah yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Jawa: Sinden.
2)        Sumatra: Tukang cerita.
3)        Talibun: (Sibolga, Sumatera Utara).
4)        Gorontalo: (Dikili).
i.      Sastra/tulisan
Berikut ini adalah beberapa sastra / tulisan daerah yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Jawa: Babad Tanah Jawa, karya-karya Ronggowarsito.
2)        Bali: karya tulis di atas Lontar.
3)        Sumatra bagian timur (Melayu): Hang Tuah.
4)        Sulawesi Selatan: Naskah Tua Lontara.
5)        Timor: Ai Babelen, Ai Kanoik.
j.      Makanan
Berikut ini adalah beberapa makanan daerah yang ada di Indonesia, yaitu :
1)        Timor: Jagung Bose, Daging Se'i, Ubi Tumis.
3)        Sumatera bagian Barat: Sate Padang, Rendang.
4)        Sumatera bagian Selatan: Pempek Palembang, Celimpungan, Laksan.
5)        Jakarta: Soto Betawi.
6)        Jogjakarta: Gudeg.
7)        Jawa Timur: Rawon, Pecel.
8)        Gorontalo: Binde Biluhuta.
9)        Sulawesi Utara: Bubur Manado (Tinutuan).
10)    Sulawesi Selatan: Coto Makassar, Pallubasa, Es pisang hijau.

I.     Budaya Indonesia yang Hilang
Berikut ini adalah beberapa budaya Indonesia yang hilang, yaitu :
1.    Lagu Rasa Sayang-sayange diklaim oleh Pemerintah Malaysia.
Rasa Sayange atau Rasa Sayang-Sayange adalah lagu daerah yang berasal dari Maluku, Indonesia. Lagu ini merupakan lagu daerah yang selalu dinyanyikan secara turun-temurun sejak dahulu untuk mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap lingkungan dan sosialisasi di antara masyarakat Maluku.
Lagu ini digunakan oleh departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan kepariwisataan Malaysia, yang dirilis sekitar bulan Oktober 2007. Sementara Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu kepulauan Nusantara (Malay archipelago), Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu bersikeras lagu “Rasa Sayange” adalah milik Indonesia karena ia merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di provinsi Maluku sejak leluhur, sehingga klaim Malaysia itu adalah salah.
2.    Desain Grafis Perak Asli Bali
Rasa terambilnya desain grafis perak asli Bali ini muncul ketika seorang warga bali yang menjaul hasil karyanya ke konsumen luar negeri. Namun tanpa diketahui, konsumen tersebut malah mematenkan hasil karya tersebut sebagai desain dari luar negeri, sehingga ketika warga Bali ini hendak mengekspor hasil karyanya ternyata dia harus beurusan dengan WTO karena dianggap telah melanggar Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs).
3.    Tari Reog Ponorogo dengan Tari Barongan Malaysia
Dikisahkan di dalam Asal Usul Reog Ponorogo telah terjadi pertempuran antara Raja Ponorogo dengan Singa Barong penjaga hutan Lodoyo. Pujangga Anom nama raja itu telah membangunkan dan membuat marah singa tersebut, karena mencuri 150 anak macan dari hutan Lodoyo. Anak-anak macan itu rencananya akan dia gunakan sebagai mas kawin pernikahannya dengan seorang puteri dari Raja Kadiri. Pertempuran antara Pujangga Anom dan singa penjaga hutan Lodoyo kemudian tak terelakkan. Kisah itu lalu menjadi legenda pada rakyat Ponorogo dan sekitarnya tentang keberanian dan ketabahan orang-orang Ponorogo dan diwujudkan dalam bentuk tarian Reog.
Dalam tarian Reog para penari bukan saja menampilkan gerakan-gerakan badan yang mempesona namun juga menyertakan suasana magis. Para penari dipercaya berada dalam keadaaan kesurupan meskipun yang sesungguhnya terjadi mereka mendahului tarian Reog dengan ritual puasa dan semedi. Adegan ketika seorang penari memanggul topeng besar berupa kepala singa yang di atasnya dihiasai dengan bulu merak adalah salah satu contoh kuatnya aroma magis tersebut.
Barongan Malaysia tidak seperti itu dan itulah yang membedakan tarian itu dengan Reog dari Ponorogo. Mungkin tema tariannya agak mirip meskipun harus dikatakan antara keduanya terdapat perberbedaan yang jauh. Namun andai pun dianggap mirip, hal itu hanya terletak pada temanya yang mengusung tema singa atau macan. Tema semacam itu juga bisa dijumpai dalam tarian Sisingaan dari Kuningan Jawa Barat dan Barongsai tarian khas Cina. Dan jika dilihat dari filosofinya, Barongan Malaysia cenderung bernuansa keagaamaan (penyebaran Islam) sementara filosofi Reog adalah keberanian dan ketabahan.
4.    Tempe yang diklaim oleh WN Jepang
Tercatat ada 19 paten tentang tempe, di mana 13 buah paten adalah milik AS, yaitu: 8 paten dimiliki oleh Z-L Limited Partnership; 2 paten oleh Gyorgy mengenai minyak tempe; 2 paten oleh Pfaff mengenai alat inkubator dan cara membuat bahan makanan; dan 1 paten oleh Yueh mengenai pembuatan makanan ringan dengan campuran tempe. Sedangkan 6 buah milik Jepang adalah 4 paten mengenai pembuatan tempe; 1 paten mengenai antioksidan; dan 1 paten mengenai kosmetik menggunakan bahan tempe yang diisolasi. Paten lain untuk Jepang, disebut Tempeh, temuan Nishi dan Inoue (Riken Vitamin Co. Ltd) diberikan pada 10 Juli 1986. Tempe tersebut terbuat dari limbah susu kedelai dicampur tepung kedele, tepung terigu, tepung beras, tepung jagung, dekstrin, Na-kaseinat dan putih telur.
5.    Makanan Daerah yang tergantikan oleh makanan dari Luar Negeri
Sekarang ini banyak sekali makanan daerah yang tergantikan terutama didaerah pariwisata. Sebenarnya tidak ada kerugian yang akan dialami oleh negara, namun jika dilaihat dari segi lain maka akan merugikan karena para penerus bangsa mendatang mungkin tidak akan tahu apa makanan daerah yang mereka miliki. Penyebab utamanya yaitu danya investor asing yang ingin memajukan perekonomian daerah pariwisata dengan membangun restoran cepat saji ataupun sejenis kedai junkfood. Masyarakat sekarang ini khususnya anak-anak muda, berpikir makanan daerah sudah ketinggalan jaman sehingga mereka berusaha untuk mengikuti tren yang ada. Semua itu tak lain juga akibat dari globalisasi apalagi sarana dan prasarana telah memadai bahkan terpenuhi.[7]



BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak. Dan kebudayaan Indonesia dibagi menjadi 2 yaitu:
1.    Wujud Kebudayaan Nasional: berupa Negara kesatuan; Ekonomi nasional; Hukum nasional; Bahasa nasional.
2.    Wujud Kebudayaan Daerah: berupa Rumah Adat, Tarian, Lagu, Musik, Alat Musik, Patung, Pakaian, Suara, Sastra/Tulisan dan Makanan.
Serta budaya Indonesia yang hilang, yaitu: Lagu Rasa Sayang-sayange diklaim oleh Pemerintah Malaysia; Desain Grafis Perak Asli Bali; Tari Reog Ponorogo dengan Tari Barongan Malaysia; Tempe yang diklaim oleh WN Jepang; Makanan Daerah yang tergantikan oleh makanan dari Luar Negeri.

B.     Saran
Dengan adanya pembahasan tentang ciri khas budaya Indonesia ini, penulis dan pembaca juga telah mengetahui apa saja budaya Indonesia yang masih ada dan budaya Indonesia yang hilang. Maka, agar budaya kita tetap ada dan jangan sampai hilang lagi, kita semua harus melestarikan budaya kita di Indonesia ini. Kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi.


DAFTAR PUSTAKA
Faisal, Faiz, Makalah Budaya Indonesia. https://faizfaisal44.wordpress.com/2016/11/15/makalah-budaya-indonesia/. 14-4-2018.
Nisa, Khairun. Makalah Kebudayaan Indonesia. http://nisabumkhairun.blogspot.co.id/2013/10/makalah-kebudayaan-indon esia.html?m=1. 14-4-2018.
Tobing, Iyoes. Makalah Keragaman Budaya Indonesia, pdf. http://www.academia.edu/27965042/MAKALAH_KERAGAMAN_BUDAYA_INDONESIA.pdf. 14-4-2018.


        [1]Faiz Faisal, Makalah Budaya Indonesia, diakses dari https://faizfaisal44.wordpress.com/2016/11/15/makalah-budaya-indonesia/, tanggal 14-4-2018.
        [2]Iyoes Tobing, Makalah Keragaman Budaya Indonesia, pdf, diakses dari http://www.academia.edu/27965042/MAKALAH_KERAGAMAN_BUDAYA_INDONESIA.pdf, tanggal 14-4-2018.
         [3]Faiz Faisal, Loc.cit.
       [4]Iyoes Tobing, Loc.cit.
          [5]Loc.cit.
[6]Faiz Faisal, Loc.cit.
[7]Khairun Nisa, Makalah Kebudayaan Indonesia, diakses dari http://nisabumkhairun.blogspot.co.id/2013/10/makalah-kebudayaan-indonesia.html?m=1, tanggal 14-4-2018.

Komentar