CIRI KHAS BUDAYA INDONESIA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu
Tugas
Mata
Kuliah Antropologi Hukum
Dosen:
Disusun
oleh:
|
Reza Handayani Fitri
|
:
|
16.4301.048
|
Kelas : A
![]() |
SEKOLAH TINGGI HUKUM BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya.
Shalawat serta salam kami curahkan kepada Nabi besar kita yakni Nabi Muhammad
SAW. Atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini tepat pada waktunya.
Penulis
akan membahas tentang Ciri Khas Budaya di
Indonesi. Karena budaya Indonesia
untuk saat ini ada yang masih ada dan ada yang sudah hilang.
Terimakasih
kepada Ibu Dr. Hj. Emma Dysmala S., S. H., M. Si., selaku dosen yang telah
membimbing dalam menyelesaikan makalah ini. Terimakasih pula penulis ucapkan kepada orang tua
yang selalu memberikan fasilitas berupa finasial maupun do’a.
Penulis
berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi pembacanya. Tak ada gading
yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah
SWT.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftra Isi ii
Bab
I Pendahuluan 1
A. Latar
Belakang 1
B. Identifikasi
Masalah 2
C. Tujuan
Penulisan 2
D. Metode
Pengumpulan Data 2
Bab
II Pembahasan 3
A. Pengertian Budaya 3
B. Sifat-sifat dari kebudayaan 4
C.
Keberagaman Budaya Indonesia 4
D.
Bukti sejarah 6
E.
Wujud dan Komponen Kebudayaan 6
F.
Budaya Sebagai Identitas Nasional 9
G.
Jenis Kebudayaan yang Ada di Indonesia 10
H.
Wujud Kebudayaan Indonesia 11
I.
Budaya
Indonesia yang Hilang 16
Bab III Penutup 19
A. Simpulan 19
B. Saran 19
Daftar Pustaka 20
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang amat kaya akan
kebudayaan, bagaimana tidak dari 34 Provinsi yang tersebar diseluruh Indonesia
semuanya memiliki kebudayaan yang berbeda-beda pula, dari berbagai macam
kebudayaan ini tidak lah membuat masyarakat Indonesia menjadi terpecah belah,
namun menjadi sebuah persatuan dari berbagai macam perbedaan.
Pengertian budaya itu sendiri adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi secara tata bahasa arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjukan kepada cara pikir manusia. Dari pengertian tersebut terlihat jelas bahwa kebudayaan merupakan cara pandang atau cara berpikir masyarakat indonesia yang telah terbentuk sejak dahulu kala, dan telah digunakan oleh rakyat indonesia dalam berbangsa dan bernegara.[1]
Pengertian budaya itu sendiri adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi secara tata bahasa arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjukan kepada cara pikir manusia. Dari pengertian tersebut terlihat jelas bahwa kebudayaan merupakan cara pandang atau cara berpikir masyarakat indonesia yang telah terbentuk sejak dahulu kala, dan telah digunakan oleh rakyat indonesia dalam berbangsa dan bernegara.[1]
Keragaman
budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia
adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks
pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa,
masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat
kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa
yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka
tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam
wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian
hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga
berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat
di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga
mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada
di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia.
Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia
turut mendukung perkembangan kebudayaan
Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa
dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman
budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok suku bangsa namun juga
keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke
modern, dan kewilayahan.[2]
B. Identifikasi Masalah
1.
Apa saja wujud dari kebudayaan yang ada di Indonesia?
2.
Budaya Indonesia apa saja yang hilang?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk megetahui dan memahami apa saja wujud dari
kebudayaan yang ada di Indonesia.
2.
Untuk mengetahui dan memahami budaya Indonesia apa
saja yang hilang.
D. Metode Pengumpulan Data
Kami
memperoleh data sebagai bahan dalam penulisan karya ilmiah ini dari kajian
pustaka dan melakukan browsing
internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Budaya
Budaya
atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan
disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah/mengerjakan.
Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga
kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.[3]
Definisi
kebudayaan menurut para ahli, sebagai berikut:
1.
Melville J. Herkovits
Memandang bahwa kebudayaan suatu yang superorganic karena kebudayaan yang turun-temurun dari generasi ke generasi
yang tetap hidup terus walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat
senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran.
2.
Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi
Merumuskan
kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
3.
E. B Taylor
Mengidentifikasikan
bahwa kebudayaan sebagai komplikasi (jalinan) dalam keseluruhan yang meliputi
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keagamaan, hukum, adat istiadat
serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat.
4.
Andes Eppink
Kebudayaan
merupakan keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta
keseluruhan struktur sosial, dan religius.
5.
Koentjaraningrat
Kebudayaan
merupakan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka
memenuhi kehidupan manusia dengan cara belajar.[4]
B. Sifat-sifat dari kebudayaan
Sifat-sifat
dari kebudayaan, adalah sebagai berikut :
1.
Adaftif
Kebudayaan
bersifat adaptif, artinya kebudayaan selalu mampu menyesuaikan diri, sifat
adaptif ini akan melengkapi manusia pendukungnya dengan menyesuaikan diri pada
hal-hal seperti kebutuhan fisiolologis badan mereka sendiri, lingkungan
fisik-geografis dan lingkungan sosial.
2.
Integratif
Kebudayaan
bersifat Integratif artinya kebudayaan memadukan semua unsur dan sifat-sifatnya
menjadi satu, bukan sekumpulan kebiasaan yang terkumpul secara acak-acakan
saja. Karena itulah kebiasaan yang dimiliki dalam suatu kebudayaan tidak dapat
dengan mudah dimasukan kedalam kebudayaan
lain.
3.
Dinamis
Kebudayaan
bersifat dinamis artinya kebudayaan itu selalu berubah dan terus bergerak
mengikuti dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat. Dinamika kehidupan
sosial budaya terjadi sebagai akibat dari interaksi manusia dengan lingkungan
sekitar, penafsiran-penafsiran atau interpretasi yang berubah tentang
norma-norma, dan nilai-nilai sosial budaya
yang berlaku.
C. Keberagaman Budaya Indonesia
Keragaman budaya adalah keniscayaan yang ada di bumi
Indonesia. Keragaman budaya Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat di
pungkiri keberadaanya. Dalam konteks pemahaman masyarakat
majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga
terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok
sukubangsa yang ada di daerah tersebut.
Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan
dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang
lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan
politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar
kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak
hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi
antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten pada
abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan
dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang gujarat dan pesisir
jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar
peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada
dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi
dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa
Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal ditengah tengah
singgungan antar peradaban itu.
Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal terbesar di
pulau-pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi
geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir,
dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat
peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang
berbeda. Pertemuan=pertemuan dengan budayaan luar juga mempengaruhi proses
asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia.
Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut
mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga mencerminkan kebudayaan
agama tertentu. Biasa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu Negara dengan
tingkat keanekaragaman budaya atau tingkat
heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragamanbudaya kelompok
sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban,
tradisional hingga ke modern, dan kewilayahan. Dengan keanekaragaman kebudayaan
Indonesia dapat dikatakan mempunyai keungulan di bandingkan dengan Negara lainnya.
Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.
Dan tak kalah pentingnya, secara social budaya dan politik masyarakat
Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang di
rangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan di jalin tidak hanya meliputi
antar kelompok sukubangsa yang berbeda,namun juga meiliputi antar peradaban
yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal portugis di banten pada abad
pertengahan missal nya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan
dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang Gujarat dan pesisir
jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar
peradaban yang ada di Indonesia. Singungan-singungan peradaban ini pada
dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi
dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa
Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya local di
tengah-tengah singgunagn antar peradaban itu.
D. Bukti sejarah
Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia
mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan
ataupun berjalan secara parallel. Misalnya kebudayaan kraton atau kerjaan yang
berdiri sejalan secara parallel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok
masyarakat terentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana
kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan parallel dengan kebudayaan rural
atau pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang jauh hidup
terpencil.
Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam
bingkai “Bhineka Tunggal Ika”, dimana bisa kita maknai bahwa konteks
keanekaragamanya bukan hanya mengacu kepada
keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan. Didasari
pula bahwa dengan jumlah kemlompok sukubangsa kurang lebih 700’an suku bangsa
di seluruh nusantara, dengan berbagai tipe kelompok masyarakat yang beragam,
serta keragaman agamanya, masyarakat
Indonesia adalah masyarakat majemuk yang sesunguh nya rapuh. Rapuh dalam
artian dengan keragaman perbedaan yang di milikinya maka potensi konflik yang
di punyai juga akan semakin tajam. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam
masyarakat akan terjadi pendorong untuk mempekuat isu konflik yang muncul di
tengah-tengah masyarakat dan keragaman
kebudayaan.[5]
E. Wujud dan Komponen Kebudayaan
1. Wujud
Menurut J.J.
Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan
artefak.
a. Gagasan
(Wujud ideal)
Wujud ideal
kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak;
tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam
kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut
menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan
ideal itu berada dalam karangan, dan buku-buku hasil karya para penulis warga
masyarakat tersebut.
b. Aktivitas
(tindakan)
Aktivitas
adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem
sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi,
mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola
tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan
sehari-hari, dan dapat diamati, dan didokumentasikan.
c.
Artefak (karya)
Artefak
adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan
karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga
wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud
kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain.
Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur, dan memberi arah kepada
tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
2. Komponen
Berdasarkan
wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli
antropologi Cateora, yaitu:
a. Kebudayaan
material
Kebudayaan
material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk
dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu
penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat
terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
b. Kebudayaan
nonmaterial
Kebudayaan
nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian
tradisional.
c. Lembaga
sosial
Lembaga
sosial, dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan,
dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem sosial yang terbentuk dalam suatu
Negara akan menjadi dasar, dan konsep yang berlaku pada tatanan sosial
masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota, dan desa dibeberapa wilayah, wanita
tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau
perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang
wanita memilik karier.
d. Sistem
kepercayaan
Bagaimana
masyarakat mengembangkan, dan membangun system kepercayaan atau keyakinan
terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam
masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana
memandang hidup, dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara
bagaimana berkomunikasi.
e. Estetika
Berhubungan
dengan seni, dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama, dan tari
–tarian, yang berlaku, dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia
setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu
dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai
tujuan, dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah, dan bersifat kedaerah,
setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning, dan
buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota
besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan
cara tersebut.
f. Bahasa
Bahasa
merupakan alat pengantar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah,
bagian, dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu
komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa
memiliki sidat unik, dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna
bahasa tersebu. Jadi keunikan, dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari, dan
dipahami agar komunikasi lebih baik, dan efektif dengan memperoleh nilai empati,
dan simpati dari orang lain.
F.
Budaya
Sebagai Identitas Nasional
Budaya
Indonesia sebagai akar Indentitas Nasional pada hakekatnya berarti manifestasi
atau pengamalan nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia sebagai Identitas Nasional.
Identitas disini berarti suatu ciri-ciri, tanda, atau jati diri yang melekat
pada suatu negara yang membedakannya dari negara lain.
Walaupun terdiri dari berbagai suku dan budaya tetapi masyarakat Indonesia tetap bersatu teguh. Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya,
Dari berbagai macam kebudayaan inilah yang menjadi dasar atau akar dari Identitas Nasional Bangsa Indonesia, dimana menjadi pembeda antara Bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya.[6]
Walaupun terdiri dari berbagai suku dan budaya tetapi masyarakat Indonesia tetap bersatu teguh. Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya,
Dari berbagai macam kebudayaan inilah yang menjadi dasar atau akar dari Identitas Nasional Bangsa Indonesia, dimana menjadi pembeda antara Bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya.[6]
G. Jenis Kebudayaan yang Ada di
Indonesia
Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan
nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di
Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Budaya merupakan suatu kebiasaan yang mengandung nilai-nilai penting dan
fundamental yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan tersebut harus dijaga
agar tidak luntur atauhilang sehingga dapat dipelajari dan dilestarikan oleh
generasi berikutnya. Budaya secara umum dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1. Budaya
nasional
Budaya Nasional adalah kebudayaan yang
diakui sebagai identitas nasional. Selain itu, budaya nasional juga diartikan
sebagai gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu
dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah
lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan
dari Negara tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa
Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober
1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang
membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa
Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan
Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”. Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan
daerah”.
2. Budaya
Daerah
Budaya Daerah adalah suatu kebiasaan
dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh
generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut.
Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir
dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang
membedakan mereka dengan penduduk-penduduk yang lain. Budaya daerah sendiri
mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan-kerajaan terdahulu.
H. Wujud Kebudayaan Indonesia
1. Wujud
Kebudayaan Nasional
Adapun
wujud dari kebudayaan nasional Negara Indonesia, yaitu:
a. Negara
kesatuan
b. Ekonomi
nasional
c. Hukum
nasional
2. Wujud
Kebudayaan Daerah
Kebudayaan
daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di
Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Berikut
adalah wujud-wujud dari kebudayaan daerah, yaitu:
a. Rumah
Adat
1)
Provinsi DI Aceh
Rumah
adat Aceh berbentuk panggung. Mempunyai 3 serambi yaitu Seuramue Keu ( Serambi
depan ), Rumah Inong ( serambi tengah ) dan Seurarnoe Likot ( serambi belakang
). Selain itu, ada rumah berupa lumnbung padi yang dinamakan Krong Pade atau
Berandang.
2)
Provinsi Sumatera Utara
Rumah
adat Sumatera Utara adalah Jahu Balon, sebuah rumah pertemuan keluarga besar. Berbentuk
panggung dan ruang atas untuk tempat tinggal. Pada ruang ini tak ada
kamar-kamar dan biasanya 8 keluarga tinggal bersama-sama. Tempat tidur lebih
tinggi daripada dapur.
3)
Provinsi Sumatera Barat
Rumah
adat untuk tempat tinggal di Sumatera Barat adalah Rumah Gadang. Rumah tersebut
dapat dikenali dari tonjalan atapnya yang mencuat ke atas yang bermakna
menjurus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tonjolan itu dinamakan gojong yang
banyaknya 4-7 buah.
4)
Provinsi Riau
Rumah
adat di daerah Riau bernama Selaso Jatuh Kembar. Ruangan rumah ini terdiri dari
ruangan besar untuk tempat tidur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai
Adat .
8)
Provinsi Sulawesi Selatan: Rumah adatnya
adalah Tongkonan (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis
Bone), Balla Lompoa
(Makassar Gowa).
12) Provinsi Kalimantan Barat
Model rumah adat Kalimantan Barat berbentuk
panggung. Bagian kolongnya tidak dipergunakan, karena tanahnya berawa-rawa.
Pada kiri kanan rumah terdapat kamar-kamar dan ditengahnya merupakan ruang
upacara dan pertenunan.
13) Provinsi Kalimantan Selatan
Rumah adatnya adalah Rumah Bubungan Tinggi.
Bagian depan rumah berfungsi sebagai teras yang dinamakan Pelataran. Rumah ini
merupakan rumah panggung dan dibawahnya untuk menyimpan padi dan sebagainya.
14) Provinsi Kalimantan Timur
Rumah adatnya adalah Rumah Lamin. Rumah itu
berbentuk panggung setinggi 3 meter dan dihuni oleh 25 – 30 kepala keluarga.
Halamnan rumah dihiasi oleh patung-patung Blontang, yang menggambarkan
dewa-dewa sebagai penjaga rumah atau kampung.
b. Tarian
Berikut
adalah tarian-tarian yang ada di Indonesia, yaitu :
11) Pesisir
Sibolga/Tapteng: Tari Sapu Tangan, Tari Adok, Tari Anak, Tari Pahlawan, Tari Lagu Duo, Tari Perak, Tari Payung .
c. Lagu
Berikut ini adalah
beberapa lagu-lagu di daerah Indoneia, yaitu :
6)
Kalimantan
Selatan: Ampar-Ampar Pisang.
7)
Nusa
Tenggara Timur: Anak Kambing Saya.
8)
Nusa Tenggara Timur:
Oras Loro Malirin, Sonbilo, Tebe
Onana, Ofalangga, Do Hawu, Bolelebo, Lewo Ro Piring Sina, Bengu Re Le Kaju, Aku
Retang, Gaila Ruma Radha.
9)
Angin
Mamiri (Sulawesi Selatan).
10)
Anju
Ahu (Sumatera Utara).
11)
Apuse
(Papua).
12)
Ayam
Den Lapeh (Sumatera Barat) .
13)
Barek
Solok (Sumatera Barat).
14)
Batanghari
(Jambi).
15)
Bubuy
Bulan (Jawa Barat).
16)
Buka
Pintu (Maluku).
17)
Bungo
Bangso (Sumatera Utara).
18)
Bungong
Jeumpa (Aceh).
19)
Burung
Tantina (Maluku).
d. Musik
Berikut adalah
beberapa music yang ada di Indonesia, yaitu :
e. Alat musik
Berikut adalah beberapa
alat music yang ada di Indonesia, yaitu :
f. Patung
Berikut ini adalah beberapa patung yang ada di
Indonesia, yaitu :
2)
Bali:
Garuda.
g. Pakaian
Berikut ini adalah beberapa pakaian daerah yang ada
di Indonesia, yaitu :
7)
Kalimantan
Selatan: Sasirangan .
10) Papua Timur: Manawou.
11) Papua Barat: Ewer.
h. Suara
Berikut ini adalah
beberapa suara daerah yang ada di Indonesia, yaitu :
2)
Sumatra:
Tukang cerita.
3)
Talibun:
(Sibolga, Sumatera Utara).
4)
Gorontalo:
(Dikili).
i. Sastra/tulisan
Berikut ini adalah
beberapa sastra / tulisan daerah yang ada di Indonesia, yaitu :
2)
Bali:
karya tulis di atas Lontar.
j. Makanan
Berikut ini adalah beberapa
makanan daerah yang ada di Indonesia, yaitu :
I.
Budaya Indonesia yang Hilang
Berikut ini adalah beberapa budaya Indonesia yang
hilang, yaitu :
1. Lagu
Rasa Sayang-sayange diklaim oleh Pemerintah Malaysia.
Rasa
Sayange atau Rasa Sayang-Sayange adalah lagu daerah yang berasal dari Maluku,
Indonesia. Lagu ini merupakan lagu daerah yang selalu dinyanyikan secara
turun-temurun sejak dahulu untuk mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap
lingkungan dan sosialisasi di antara masyarakat Maluku.
Lagu
ini digunakan oleh departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan
kepariwisataan Malaysia, yang dirilis sekitar bulan Oktober 2007. Sementara
Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa
Sayange merupakan lagu kepulauan Nusantara (Malay archipelago), Gubernur Maluku
Karel Albert Ralahalu bersikeras lagu “Rasa Sayange” adalah milik Indonesia
karena ia merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di provinsi Maluku sejak
leluhur, sehingga klaim Malaysia itu adalah salah.
2. Desain
Grafis Perak Asli Bali
Rasa
terambilnya desain grafis perak asli Bali ini muncul ketika seorang warga bali
yang menjaul hasil karyanya ke konsumen luar negeri. Namun tanpa diketahui,
konsumen tersebut malah mematenkan hasil karya tersebut sebagai desain dari
luar negeri, sehingga ketika warga Bali ini hendak mengekspor hasil karyanya ternyata
dia harus beurusan dengan WTO karena dianggap telah melanggar Trade Related
Intellectual Property Rights (TRIPs).
3. Tari
Reog Ponorogo dengan Tari Barongan Malaysia
Dikisahkan
di dalam Asal Usul Reog Ponorogo telah terjadi pertempuran antara Raja Ponorogo
dengan Singa Barong penjaga hutan Lodoyo. Pujangga Anom nama raja itu telah
membangunkan dan membuat marah singa tersebut, karena mencuri 150 anak macan
dari hutan Lodoyo. Anak-anak macan itu rencananya akan dia gunakan sebagai mas
kawin pernikahannya dengan seorang puteri dari Raja Kadiri. Pertempuran antara
Pujangga Anom dan singa penjaga hutan Lodoyo kemudian tak terelakkan. Kisah itu
lalu menjadi legenda pada rakyat Ponorogo dan sekitarnya tentang keberanian dan
ketabahan orang-orang Ponorogo dan diwujudkan dalam bentuk tarian Reog.
Dalam
tarian Reog para penari bukan saja menampilkan gerakan-gerakan badan yang
mempesona namun juga menyertakan suasana magis. Para penari dipercaya berada
dalam keadaaan kesurupan meskipun yang sesungguhnya terjadi mereka mendahului
tarian Reog dengan ritual puasa dan semedi. Adegan ketika seorang penari
memanggul topeng besar berupa kepala singa yang di atasnya dihiasai dengan bulu
merak adalah salah satu contoh kuatnya aroma magis tersebut.
Barongan
Malaysia tidak seperti itu dan itulah yang membedakan tarian itu dengan Reog
dari Ponorogo. Mungkin tema tariannya agak mirip meskipun harus dikatakan
antara keduanya terdapat perberbedaan yang jauh. Namun andai pun dianggap
mirip, hal itu hanya terletak pada temanya yang mengusung tema singa atau
macan. Tema semacam itu juga bisa dijumpai dalam tarian Sisingaan dari Kuningan
Jawa Barat dan Barongsai tarian khas Cina. Dan jika dilihat dari filosofinya,
Barongan Malaysia cenderung bernuansa keagaamaan (penyebaran Islam) sementara
filosofi Reog adalah keberanian dan ketabahan.
4. Tempe
yang diklaim oleh WN Jepang
Tercatat
ada 19 paten tentang tempe, di mana 13 buah paten adalah milik AS, yaitu: 8
paten dimiliki oleh Z-L Limited Partnership; 2 paten oleh Gyorgy mengenai
minyak tempe; 2 paten oleh Pfaff mengenai alat inkubator dan cara membuat bahan
makanan; dan 1 paten oleh Yueh mengenai pembuatan makanan ringan dengan
campuran tempe. Sedangkan 6 buah milik Jepang adalah 4 paten mengenai pembuatan
tempe; 1 paten mengenai antioksidan; dan 1 paten mengenai kosmetik menggunakan
bahan tempe yang diisolasi. Paten lain untuk Jepang, disebut Tempeh, temuan
Nishi dan Inoue (Riken Vitamin Co. Ltd) diberikan pada 10 Juli 1986. Tempe
tersebut terbuat dari limbah susu kedelai dicampur tepung kedele, tepung
terigu, tepung beras, tepung jagung, dekstrin, Na-kaseinat dan putih telur.
5. Makanan
Daerah yang tergantikan oleh makanan dari Luar Negeri
Sekarang
ini banyak sekali makanan daerah yang tergantikan terutama didaerah pariwisata.
Sebenarnya tidak ada kerugian yang akan dialami oleh negara, namun jika
dilaihat dari segi lain maka akan merugikan karena para penerus bangsa
mendatang mungkin tidak akan tahu apa makanan daerah yang mereka miliki.
Penyebab utamanya yaitu danya investor asing yang ingin memajukan perekonomian
daerah pariwisata dengan membangun restoran cepat saji ataupun sejenis kedai junkfood. Masyarakat sekarang ini
khususnya anak-anak muda, berpikir makanan daerah sudah ketinggalan jaman
sehingga mereka berusaha untuk mengikuti tren yang ada. Semua itu tak lain juga
akibat dari globalisasi apalagi sarana dan prasarana telah memadai bahkan
terpenuhi.[7]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Wujud
kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak. Dan
kebudayaan Indonesia dibagi menjadi 2 yaitu:
1.
Wujud Kebudayaan Nasional: berupa Negara
kesatuan; Ekonomi nasional; Hukum nasional; Bahasa
nasional.
2.
Wujud Kebudayaan Daerah: berupa Rumah
Adat, Tarian, Lagu, Musik, Alat Musik, Patung, Pakaian, Suara, Sastra/Tulisan
dan Makanan.
Serta
budaya
Indonesia yang hilang, yaitu: Lagu Rasa Sayang-sayange diklaim oleh Pemerintah
Malaysia; Desain Grafis Perak Asli Bali; Tari Reog Ponorogo dengan Tari
Barongan Malaysia; Tempe yang diklaim oleh WN Jepang; Makanan Daerah yang
tergantikan oleh makanan dari Luar Negeri.
B.
Saran
Dengan
adanya pembahasan tentang ciri khas budaya Indonesia ini, penulis dan pembaca
juga telah mengetahui apa saja budaya Indonesia yang masih ada dan budaya
Indonesia yang hilang. Maka, agar budaya kita tetap ada dan jangan sampai
hilang lagi, kita semua harus melestarikan budaya kita di Indonesia ini. Kalau
bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Faisal,
Faiz, Makalah Budaya Indonesia. https://faizfaisal44.wordpress.com/2016/11/15/makalah-budaya-indonesia/.
14-4-2018.
Nisa,
Khairun. Makalah Kebudayaan Indonesia. http://nisabumkhairun.blogspot.co.id/2013/10/makalah-kebudayaan-indon
esia.html?m=1. 14-4-2018.
Tobing, Iyoes. Makalah
Keragaman Budaya Indonesia, pdf. http://www.academia.edu/27965042/MAKALAH_KERAGAMAN_BUDAYA_INDONESIA.pdf.
14-4-2018.
[1]Faiz
Faisal, Makalah Budaya Indonesia,
diakses dari https://faizfaisal44.wordpress.com/2016/11/15/makalah-budaya-indonesia/, tanggal 14-4-2018.
[2]Iyoes
Tobing, Makalah Keragaman Budaya
Indonesia, pdf, diakses dari http://www.academia.edu/27965042/MAKALAH_KERAGAMAN_BUDAYA_INDONESIA.pdf, tanggal 14-4-2018.
[6]Faiz Faisal, Loc.cit.
[7]Khairun Nisa, Makalah Kebudayaan Indonesia, diakses
dari http://nisabumkhairun.blogspot.co.id/2013/10/makalah-kebudayaan-indonesia.html?m=1, tanggal 14-4-2018.

Komentar
Posting Komentar